Ustadz Fajar pada Pengajian songsong Ramadhan : Satu Bithoqoh mengalahkan 99 Gulungan Keburukan

04 Maret 2026
Administrator
Dibaca 3 Kali
Ustadz Fajar pada Pengajian songsong Ramadhan : Satu Bithoqoh mengalahkan 99 Gulungan Keburukan

Moyudan- Umat muslim di Papungan, Sumbersari,Moyudan, Sleman, mengadakan pengajian songsong Ramadhan di masjid Al-Ihsan Papungan pada Sabtu, 14/2/2026. Pengajian diikuti oleh 100 orang dari balita sampai lansia.

Tukidjo yang mewakli takmir menyampaikan terima kasihnya kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara tersebut, seraya mohon maaf jika banyak kekurangannya.

Pada acara itu juga dilakukan pemberian sertifikat penghargaan kepada ketiga santri TPA Al-Ihsan yang telah lulus Iqro’ jilid 6, yaitu Arsya Wildan Rafardan bin Sugemg Marsudi, Adhyasta Revan Ramadhanis binTariyanto, dan Iqbal Tsani Khairudin bin Anan Nurjiyanto.

Adapun narasumber yang dihadirkan adalah Fajar Subekti Zulkarnain, ustadz asal Jambi yang merupakan lulusan pondok pesantren di Ponorogo, Madrasah Mu’allimin Yogyakarta, dan Universitas Negeri Yogyakarta. Ustadz Fajar menyampaikan tentang persiapan-persiapan fisik dan mental untuk menghadapi bulan ramadhan seperti niat yg kuat, menjaga kesehatan, mengatur menu makanan, dan sebagainya.

Ia juga menukil sebuah hadits tentang kartu bithoqoh dan 99 keburukan Disampaikannya bahwa ada seorang hamba yang mempunyai 99 gulungan keburukan. Tetapi keburukan-keburukan tersebut di hadapan Allah bisa lebur karena dikalahkan oleh satu bithoqoh (kartu/catatan) di dalam hatinya, yaitu Laa ilaha Illallah. Ia menuturkan bahwa keyakinan ini harus tertanam kuat di dalam hati sebagai landasan menjalani kehidupan yang tentu banyak masalah.

“Allah itu suka kepada hamba-Nya yang meski banyak masalah tetapi tetap bisa tertawa karena yakin ada Allah yang menolongnya. Dia Maha Esa dan menguasai segala sesuatunya. Maka keimanan itu sangat penting,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengajak para jamaah untuk beribadah dengan senang hati.
“Beribadah itu tak usah spaneng-spaneng, tapi lakukan dengan senang hati tanpa ada tekanan. Allah itu tidak menuntut banyak kok dari kita, dan Rasulullah itu piyayinya juga suka bercanda, tidak galak atau kaku,’ jelasnya. Ia menyampaikan pula bahwa iibadah tidak sebatas sholat, puasa, zakat, dll tetapi bekerja, bersosialisasi dengan tetangga, menolong orang, dan lain-lain juga merupakan ibadah yang pelaksanaanya lebih banyak drpd ibadah mahdzoh atau khusus.

Pada acara tersebut juga diadakan ikrar saling memaafkan seraya bersalam-salaman dan doa diakhiri dengan doa dipimpin rois setempat, Ireng Sapto Suyamto. (Eny Ms/ KIM Sumber Biwara Moyudan)