Pasar Krempyeng Dari Masa ke Masa
Pasar Krempyeng adalah pasar tradisional yang karena sifatnya sementara atau cepat bubar, biasanya hanya buka pada hari-hari tertentu dalam kalender Jawa, seperti Pon, Wage, dan Legi, atau hanya beberapa jam saja. Istilah “Krempyeng” sendiri dalam bahasa Jawa berarti “cepat bubar” atau dalam konteks pasar, merujuk pada pasar yang beroperasi dalam waktu terbatas. Nama Pasar Krempyeng banyak berdiri di beberapa daerah, baik di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pasar ini biasanya berlokasi di desa atau daerah tertentu dan menjadi pusat transaksi jual beli kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat sekitar. Salah satunya adalah pasar Krempyeng yang berada di Dakawon, Sumbersari, Moyudan, Sleman. Pasar tradisional tersebut sudah berdiri sejak jaman Kolonial Belanda. Semula banyak penjual yang berderet di pinggir jalan. Para penjual menjajakan dagangannya dengan menggelar alas seadanya, ada juga yang membuat gubuk bambu sebagai tempatnya.
Pada perkembangannya pada tahun 1975 Pemerintah Kalurahan Sumbersari, memfasilitasi tempat berjualan dengan mbuatkan Los dalam satu lokasi. Dan dilengkapi dengan kios-kios yang lebih permanen. Dengan menggunakan tanah kas desa seluas 1.600 meter persegi, para pedagang mulai menempati Los dan kios tersebut, sehingga tidak lagi berada di tepi jalan. Pada tahun 1982 Los pasar yang kurang memadai dibangun yang lebih permanen, dengan lantai keramik dan atap asbes.
Seiring dengan munculnya pasar modern yang tumbuh dimana-mana, diikuti dengan pola hidup masyarakat, pasar Krempyeng mulai sepi. Aktifitas pasar mulai berkurang pula. Sebagai upaya menghidupkan kembali, Pemerintah Kalurahan Sumbersari dengan menggunakan dana desa pada tahun 2023, mulai memindahkan kios di sisi timur kebelakang. Kios -kios yang semula mepet jalan sehingga menutup Los yang dibelakangnya. Kemudian di tahun 2024 memindahkan kios di sisi barat.
Untuk melengkapi sarana parkir yang lebih preventif maka pada tahun 2025 dibangun tempat parkir yang berada di depan los-los tersebut. Setelah dibangun sarana tersebut pasar Krempyeng Dakawon mulai menggeliat, pedagang kebutuhan sehari-hari berjualan setiap hari. Kios-kios toko kelontong banyak yang buka kembali bahkan buka sampai jam 1.00 dini hari. Yang lebih menghidupkan lagi ada warung angkringan yang buka sampai dini hari.
Pasar Krempyeng yang semula sepi sekarang nampak hidup kembali.
Carik Sumbersari Junaidi berharap dengan adanya pasar desa “Krempyeng” diharapkan bisa menjadi penyangga ekonomi masyarakat.
( Giek )

Kirim Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin