MAHASISWA KEDOKTERAN UNY GANDENG DOSEN EDUKASI BAHAYA LEPTOSPIROSIS DI SUMBERSARI

02 Mei 2026
Admin
Dibaca 29 Kali
MAHASISWA KEDOKTERAN UNY GANDENG DOSEN EDUKASI BAHAYA LEPTOSPIROSIS DI SUMBERSARI

_Sumbersari, Moyudan_ – Mahasiswa Program Studi Kedokteran Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar sosialisasi kesehatan tentang penyakit leptospirosis di Pendopo Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Sleman, Sabtu (2/5/2026) pagi. Kegiatan ini diisi langsung oleh dr. Iriena Agustiningtyas, dosen Kedokteran UNY, dan dihadiri Lurah Sumbersari, jajaran pamong, staf kalurahan, serta puluhan warga masyarakat.

Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut bertujuan meningkatkan kewaspadaan warga terhadap leptospirosis, penyakit yang kerap muncul saat musim hujan dan pascabanjir. Mengingat wilayah Sumbersari berada di dataran rendah dan dikelilingi area persawahan, risiko penularan bakteri _Leptospira_ dari air kencing tikus dinilai perlu diantisipasi bersama.

Dalam paparannya, dr. Iriena Agustiningtyas menjelaskan secara rinci tentang leptospirosis. “Bakteri ini masuk ke tubuh manusia lewat luka terbuka di kulit atau selaput lendir mata, hidung, dan mulut saat bersentuhan dengan air, tanah, atau lumpur yang tercemar urine tikus,” jelasnya. Ia menambahkan, petani, peternak, dan warga yang sering beraktivitas di sawah atau selokan menjadi kelompok paling rentan.

Selain cara penularan, dr. Iriena juga memaparkan gejala leptospirosis yang perlu diwaspadai. Gejala awal mirip flu berat, yaitu demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot terutama betis, mual, muntah, dan mata merah. “Jika tidak ditangani cepat, bisa menyebabkan komplikasi ke ginjal, hati, hingga meningitis. Karena itu, kalau ada gejala tersebut setelah kontak dengan air banjir atau lumpur, segera periksa ke Puskesmas,” tegasnya.

Terkait penanganan, dr. Iriena menekankan pentingnya deteksi dini. Pengobatan utama adalah antibiotik yang harus diberikan dokter. Ia juga membagikan tips pencegahan praktis: gunakan sepatu boots dan sarung tangan saat di sawah atau membersihkan selokan, tutup luka dengan plester kedap air, berantas tikus di lingkungan rumah, dan biasakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Lurah Sumbersari menyambut baik kegiatan ini. “Kami berterima kasih kepada UNY, khususnya dr. Iriena dan adik-adik mahasiswa Kedokteran yang peduli dengan warga kami. Materi yang disampaikan sangat relevan dengan kondisi Sumbersari,” ujarnya. Beliau berharap, setelah sosialisasi ini warga lebih berhati-hati dan aktif menjaga kebersihan lingkungan. “Jangan ada genangan, rutin kerja bakti bersihkan selokan, dan simpan makanan di tempat tertutup agar tidak dijangkau tikus. Mencegah lebih baik daripada mengobati.”

Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan saat sesi diskusi. Salah satu warga Padukuhan Blendung Bp Suhadi (60 th ), mengaku jadi lebih paham. “Ternyata main di air banjir tanpa alas kaki bahaya sekali. Besok-besok saya mau pakai sepatu boot kalau ke sawah,” katanya.

Acara ditutup dengan pembagian leaflet pencegahan leptospirosis dan foto bersama. Kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadi wujud nyata sinergi antara perguruan tinggi dengan pemerintah kalurahan dalam menjaga derajat kesehatan warga.