Sleman – Di tengah hiruk-pikuk dinamika perkotaan, Kampung Nasri III di Sumbersari, Moyudan, menjelma menjadi zona yang relatif tenang. Namun, ketenangan bukan berarti lengah. Rabu (15/7/2026), puluhan pengurus dan anggota Kamling (Keamanan Lingkungan) Jagabaya Nasri III berkumpul di Joglo Jetis. Mereka bukan sekadar bersilahturahmi, melainkan mengasah "tameng" ketahanan wilayah di hadapan jajaran Satpol PP dan kepolisian.
 
Kepala Satpol PP Sleman, Ihsan Waluyo, membuka pembinaan dengan apresiasi sekaligus peringatan. "Wilayah ini memang tergolong aman, tapi jangan pernah matikan radar kewaspadaan," tegasnya di hadapan 30 peserta yang antusias. Menurutnya, keamanan bukanlah pekerjaan tunggal petugas, melainkan tanggung jawab kolektif. "Semua elemen warga harus bergerak bersama. Bukan hanya untuk keamanan, tapi juga menjaga kerukunan dan ketertiban yang sudah terbangun," imbuhnya.
 
Tak berhenti di situ, Ihsan menyoroti isu yang lebih dekat dengan keseharian: sampah, narkoba, dan perilaku generasi muda. Ia mengingatkan para orang tua untuk menjadi benteng pertama bagi putra-putrinya. "Jangan sampai anak-anak kita menjadi korban, apalagi pelaku kejahatan jalanan. Perhatikan pergaulannya, itu investasi jangka panjang," pesannya dengan nada serius. Bahkan, soal data pribadi seperti NIK dan KK pun tak luput dari perhatian—"Jangan mudah meminjamkan identitas, karena dampaknya bisa merugikan diri sendiri dan lingkungan," tambahnya.
 
Sementara itu, Kasat Bimas Polres Sleman, AKP Sugiyanto, membawa angin segar bagi warga yang selama ini mungkin enggan berurusan dengan hukum. Ia memperkenalkan konsep restorative justice (keadilan restoratif). "Kalau ada masalah ringan di tingkat RT/RW, selesaikan secara kekeluargaan bersama Babinkamtibmas dan tokoh masyarakat. Tidak semua urusan harus masuk kantor polisi. Yang penting sinergi tetap terjaga," ujarnya, mengundang anggukan setuju dari para hadirin.
 
Tak kalah inspiratif, anggota DPRD Sleman, Untung Basuki Rahamat, mengingatkan bahwa kemajuan ekonomi kerap membawa konsekuensi baru. "Ketika kesejahteraan meningkat, masalah juga tumbuh. Tapi warga Nasri sudah membuktikan bahwa kunci kebahagiaan adalah kekompakan," tuturnya. Ia pun mengajak setiap keluarga merawat keharmonisan rumah tangga. "Fakta di lapangan menunjukkan, kenakalan remaja paling sering berakar dari keluarga yang retak. Jadi, jaga keutuhan keluarga, itu adalah pilar keamanan yang paling dasar," pungkasnya.
 
Pembinaan ini menjadi pengingat bahwa kampung yang aman bukanlah mimpi, melainkan hasil dari kerja kolaboratif—dari pos kamling hingga kursi DPRD. 
Edy - KIM Sumber Biwara Moyudan